BINews.id, JAKARTA — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul persoalan serius: apakah manusia masih sepenuhnya mengendalikan teknologi, atau justru mulai dikendalikan oleh algoritma yang diciptakannya sendiri?
Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, melalui tulisannya bertajuk “Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin”, yang dirilis pada 30 September 2026.
Komaruddin menggambarkan munculnya fenomena baru yang ia sebut sebagai “algo sapiens”, yakni manusia yang tetap memiliki tubuh, emosi, keluarga, agama, dan kehidupan sosial, tetapi pola berpikir serta kebiasaannya semakin dipengaruhi sistem algoritmik.
Menurutnya, manusia pada awalnya menciptakan mesin pintar untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan dan membuat kehidupan menjadi lebih mudah. Namun, perkembangan teknologi justru menghadirkan paradoks ketika manusia mulai menyerahkan sebagian proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada mesin.
“Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi lama-lama kecerdasan buatan itu yang menjadi sandaran menggantikan kinerja otak dan pikiran kita,” demikian gagasan utama yang disampaikan dalam tulisan tersebut.
Dari Membantu hingga Membentuk Perilaku
Komaruddin mengutip pemikiran Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018), yang menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat dikumpulkan menjadi data perilaku.
Aktivitas sehari-hari, mulai dari pencarian di internet, penggunaan media sosial, belanja daring, menonton video hingga interaksi dengan perangkat digital, menghasilkan jejak data yang kemudian dapat dianalisis untuk membaca pola perilaku seseorang.
Persoalannya, algoritma tidak berhenti pada tahap membaca perilaku. Sistem juga dapat memprediksi kecenderungan seseorang dan kemudian menyusun rekomendasi yang berpotensi memengaruhi keputusan pengguna.
Dalam perspektif tersebut, terjadi pergeseran dari pengawasan, prediksi, intervensi hingga perubahan perilaku.
Manusia pada akhirnya bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi sekaligus menjadi sumber data yang digunakan untuk membangun sistem prediksi.
Ancaman terhadap Otonomi Pikiran
Komaruddin juga mengangkat pemikiran Franklin Foer dalam World Without Mind (2017), khususnya mengenai ancaman teknologi terhadap otonomi berpikir manusia.
Algoritma dapat menentukan informasi yang lebih dahulu muncul di layar, merekomendasikan video, berita, produk, hingga berbagai konten berdasarkan rekam jejak pengguna.
Dalam kondisi tersebut, manusia memang masih memiliki kemampuan untuk memilih. Namun, persoalan yang muncul adalah siapa yang sebenarnya membentuk lingkungan pilihan tersebut.
Seseorang mungkin merasa bebas menentukan apa yang dibaca atau ditonton. Namun, pilihan yang tersedia telah terlebih dahulu disusun oleh sistem berdasarkan data dan perilaku sebelumnya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata hilangnya kemampuan memilih, melainkan hilangnya kesadaran mengenai siapa yang membentuk medan pilihan manusia.
“Penjara” Tanpa Tembok
Komaruddin menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kekuasaan baru yang tidak membutuhkan tembok, penjaga, maupun perintah secara langsung.
Kekuasaan algoritmik bekerja melalui pengaturan lingkungan pilihan. Pengguna tetap merasa bebas, tetapi informasi dan pilihan yang berada di hadapannya telah disusun berdasarkan sistem rekomendasi.
Model kekuasaan semacam ini berbeda dengan kekuasaan konvensional yang bekerja melalui instruksi langsung.
Teknologi digital justru bekerja secara lebih halus dengan memberikan kesan bahwa sistem memahami kebutuhan dan keinginan pengguna, kemudian menawarkan apa yang dianggap sesuai.
Kemudahan Digital dan Masyarakat yang Cemas
Komaruddin juga menghubungkan fenomena tersebut dengan pemikiran Byung-Chul Han mengenai masyarakat modern yang diliputi kecemasan.
Kemajuan teknologi memang membuat manusia semakin mudah memperoleh informasi dan memenuhi berbagai kebutuhan. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis menghilangkan rasa cemas, takut tertinggal, takut gagal, kehilangan masa depan, hingga kekhawatiran kehilangan kendali atas kehidupan sendiri.
Jika pemikiran Zuboff, Foer, dan Byung-Chul Han ditempatkan secara berdampingan, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apa yang terjadi ketika manusia semakin kehilangan kemampuan mengendalikan hidupnya sendiri?
Komaruddin mengingatkan bahwa manusia kini menghadapi banjir informasi. Tantangannya bukan lagi sekadar memperoleh informasi, tetapi membedakan informasi yang benar-benar dicari dengan informasi yang sengaja disodorkan oleh sistem algoritmik.
Jangan Sampai Homo Sapiens Kehilangan Esensinya
Ketergantungan terhadap teknologi, menurut Komaruddin, berpotensi melemahkan sejumlah kemampuan manusia jika tidak disikapi secara kritis.
Daya ingat dapat semakin jarang dilatih. Kemampuan menganalisis bisa berkurang ketika semua jawaban tersedia secara instan. Bahkan pengalaman melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan dapat semakin ditinggalkan karena manusia terbiasa menyerahkan keputusan kepada sistem.
Padahal, manusia menjadi manusia karena memiliki kemampuan untuk bertanya, meragukan, merenung, berempati, berharap, mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Kecerdasan buatan dapat memiliki kemampuan intelligence yang semakin tinggi. Namun, kecerdasan tidak otomatis sama dengan kebijaksanaan.
Teknologi dapat mengolah data masa lalu untuk menemukan pola dan memprediksi masa depan. Sementara manusia memiliki kemampuan untuk mempertanyakan pola tersebut, mengambil keputusan berbeda, melakukan refleksi, bahkan memilih jalan hidup baru.
Pada titik inilah istilah “algo sapiens” menjadi relevan sebagai bahan renungan.
Perkembangan teknologi bukan hanya menyangkut seberapa pintar mesin yang berhasil diciptakan manusia, tetapi juga seberapa kuat manusia mempertahankan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Sebab, ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap, dan memilih secara sadar, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar persoalan privasi.
Yang dipertaruhkan adalah esensi kemanusiaan itu sendiri.
( Redaksi)
















