BINews.id, BOGOR — Kemunculan Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (FABEM) mulai mendapat sorotan. Fikri Purnama, yang pernah menjabat sebagai Koordinator Daerah Bogor Raya BEM Seluruh Indonesia, mempertanyakan proses konsolidasi yang melatarbelakangi terbentuknya forum tersebut.
Fikri menilai, penggunaan identitas “alumni BEM” membawa konsekuensi penting, terutama terkait keterbukaan mengenai siapa penggagas, struktur, anggota, serta proses pembentukan forum tersebut.
“Kalau memang ini forum alumni BEM, seharusnya ada proses konsolidasi yang jelas dan terbuka dengan alumni-alumni BEM. Jangan sampai tiba-tiba muncul sebuah gerakan yang membawa nama besar alumni BEM, tetapi banyak pihak yang sebelumnya tidak pernah diajak berkonsolidasi,” ujar Fikri.
Menurut dia, alumni BEM tersebar di berbagai kampus dan memiliki pengalaman organisasi yang beragam. Karena itu, proses pembentukan sebuah wadah yang mengatasnamakan alumni BEM, menurutnya, idealnya dapat dijelaskan secara terbuka kepada publik maupun jejaring alumni.
Rekam Jejak Pengurus Dipertanyakan
Fikri juga meminta adanya kejelasan mengenai pihak-pihak yang berada di balik FABEM, termasuk rekam jejak mereka ketika masih aktif sebagai mahasiswa.
Ia menilai, klarifikasi mengenai latar belakang organisasi bukan dimaksudkan untuk mempersoalkan kapasitas seseorang, melainkan sebagai bagian dari transparansi ketika sebuah forum menggunakan identitas kolektif alumni BEM.
“Ini bukan soal mengklaim siapa yang paling alumni atau paling senior. Tetapi kalau sebuah forum menggunakan identitas alumni BEM, tentu publik berhak mengetahui rekam jejak orang-orang yang berada di dalamnya. Apakah memang pernah menjabat di BEM, di kampus mana, dan pada periode kapan,” katanya.
Soroti Potensi Kepentingan Politik
Selain persoalan konsolidasi, Fikri turut menyoroti kemungkinan adanya kepentingan politik di balik kemunculan FABEM.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan dugaan. Menurutnya, diperlukan keterbukaan mengenai agenda, struktur, serta aktivitas forum untuk melihat arah gerakan tersebut secara objektif.
“Jangan sampai nama alumni BEM kemudian digunakan untuk kepentingan politik tertentu. Kalau memang murni gerakan alumni, mari dibuka siapa penggagasnya, apa agendanya, bagaimana proses konsolidasinya, dan siapa saja yang terlibat,” tegas Fikri.
Ia menambahkan, alumni BEM memiliki latar belakang serta pilihan politik yang beragam. Oleh sebab itu, menurutnya, perlu ada batas yang jelas antara wadah alumni, gerakan sosial-kemahasiswaan, dan aktivitas politik praktis.
Dorong FABEM Buka Proses Pembentukan
Meski menyampaikan kritik, Fikri menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menghalangi siapa pun untuk membangun wadah alumni BEM.
Sebaliknya, ia mendorong agar forum tersebut dapat dibangun secara transparan, inklusif, dan melibatkan jejaring alumni BEM secara lebih luas.
“Kalau memang ingin membawa nama alumni BEM, silakan dibangun secara terbuka dan inklusif. Yang penting prosesnya jelas, siapa yang menggagas, siapa yang terlibat, apa tujuan organisasinya, dan agenda apa yang akan diperjuangkan,” ujarnya.
Fikri berharap pihak FABEM dapat memberikan penjelasan terbuka terkait proses pembentukan forum, struktur kepengurusan, pihak-pihak yang terlibat, serta agenda yang hendak dijalankan.
Menurutnya, keterbukaan tersebut penting agar tidak muncul berbagai tafsir di tengah masyarakat maupun komunitas alumni BEM mengenai tujuan dan arah gerakan yang mengatasnamakan alumni organisasi mahasiswa tersebut.
( Tim media)
















